PENDAHULUAN
Bismillahirrahmanirrahim
syukur al-hamdulillah penulis panjatkan semoga penulis dan pembaca senantiasa
dalam maghfirah, lindungan, serta hidayah-Nya, Amin.selanjutnya pada pembahasan
ini penulis ingin melakukan penggagasan terhadap satu komposisi redaksi yang
berbunyi “ Manusia, Pikiran, pengetahuan.” Dengan dimulai dari
pendahuluan yang akan sendikit menyinggung maksud judul, kemudiuan dilanjutkan
dengan pembahasan mengenai manusia, pikiran, dan pengetahuan, yang terakhir
adalah penutup.
Terkait dengan
hal itu diantara point paling krusial dalam pembahasan ini adalah adalah
mengenai pengertian manusia,pengertian pikiran, pengertian pengetahuan dalam
konteks verbal maupun istilah sekaligus proses-proses berpikir yang dilakukan
oleh manusia dalam rangka mendapatkan pengetahuan –pengetahuan baru dalam
interaksinya sebagai makhluk sosial dengan lingkungan sosial maupun lingkungan
fisik.
Mengapa manusia
dikaitkan dengan pikiran dan pengetahuan karena memang tiga kata itu tidak
terpisahkan satu sama lain terlepas dari kondisi manusia itu kurang waras,
tidak waras ( gila ), karena secara umum manusia dianugerahi oleh Allah Swt,
akal pikir dan akal budi sebagai diferensiasi diantara makhluk lain yang diciptakan oleh Allah Swt, seperti hewan dan tumbuhan. Dengan anugerah yang begitu sempurna
itu maka manusia dapat memamfaatkan akal pikir dan akal budi itu untuk
melangsungkan kehidupan di bumi serta dalam proses aktualisasi dirinya sebagai
makhluk yang beradap dalam interaksinya dengan masyarakat.
Dengan
pikirannya manusia bisa melakukan eksplorasi berfikir yang bijak karena dalam
konteks berinteraksi dengan masyarakat mekanisme “berfilkir” inilah yang
menjadi barometer manusia dalam kualitas dan kuantitas dirinya di mata
masyarakat dan manusia yang lain.hal itu terjadi karena refleksi berfikir ini
yang kemudian diaktualisasikan dalam bentuk kecakapan kognitif, psikomotorik
dan afektif.
Kualitas dan
kuantitas manusia sebagai makhluk elit hanya bisa didapatkan dengan selalu
interospeksi diri dan membuka diri dengan segala bentuk koreksi yang inklusif
sebagai wahana pengembangan kepribadian dan wahana pengembangan pengetahuan,
seperti yang dijelaskan di pembahasan sebelumnya bahwa manusia, pikiran,
pengetahuan, adalah tiga hal yang tidak bisa terpisahkan satu sama lain.
Manusia dengan pikirannya mampu mendapatkan pengetahuan-pengetahuan baru yang
didapat dari hasil pengalamannya dengan lingkungan sosial dan lingkungan
fisiknya.
Selain mekanisme
“berfikir” maka pengetahuan juga menjadi faktor determinan dalam menentukan
kulitas dan kuantitas manusia yang akan menghantarkan manusia pada paradigma
kebudayaan,dan pemikiran yang beradap sebagai verifikasi bahwa manusia adalah
makhluk yang elit dengan segala keunikan dan ke khassannya.
PEMBAHASAN
Manusia sebagai
individu hidup dalam suatu habitat dan kungkungan interaksi sosialnya, diakui
atau tidak interaksi ini pasti terjadi dan mutlak diperlukan untuk hidupnya. tanpa
dunia luar itu ia pasti mati. untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, melangsungkan
dan mengembangkannya, manusia membutuhkan makanan, udara, juga memerlukan
persahabatan, ilmu pengetahuan, persekutuan dan kesusilaan. daya-daya yang
mendorong manusia dari dalam untuk
melakukan perbuatan itu disebut dorongan nafsu ( driften ). Yang dimaksud
dengan dorongan nafsu adalah kekuatan pendorong maju yang memaksa dan mengejar
kepuasan dengan jalan mencari, mencapai sesuatu yang berupa benda- benda
ataupun nilai-nilai tertentu.
Manusia adalah
makhluk yang belum selesai, belum lengkap dan yang membutuhkan dunia luar untuk
berkembang mencapai kesempurnaannya, baik jasmani maupun rohani. dorongan nafsu
itulah yang merupakan kekuatan di dalam diri manusia, yang mendorong kita maju
untuk memiliki benda-benda dan nilai-nilai itu, dorongan nafsu adalah bentuk penjelmaan
hidup yang tertentu.
Manusia sebagai
makhluk yang “sadar” akan diri sendiri, akan dapat menyadari bahwa ia
“didorong” ia merasa bahwa ada sesuatu di dalam dirinya yang mendorongnya
berbuat dan bertindak.[1]
Bilamana manusia
ditinjau dari sudut aesthetika, ( ilmu tentang keindahan) maka manusia disrebut
dengan” homo aestheticus” yaitu makhluk yang memiliki bakat dan selera yang
suka kepada seni dan keindahan. Kadang–kadang juga “disebut homo sosius” yaitu
makhluk yang berbakat kepada hidup saling tolong menolong, hal ini bila manusia
dilihat dari segi sosiologi atau psikologi sosial oleh karena manusia adalah
berbeda dengan binatang dalam hal khas pada kemampuan berfikir yang
dimilikinya, maka ia disebut dengan “homo sapiens” (makhluk yang berkemampuan
untuk berfikir).[2]
Memang kriterium pokok yang membedakan antara manusia dengan binatang adalah
terletak pada akal berfikirnya.
Akan
tetapi kalau kita pandang dari sudut Anthropo Biologi Darwinisme, maka dalam
proses perkembangan evolusioner-nya, manusia pada suatu stadium tertentu
disebut juga “homo homini lupus” yaitu makhluk yang suka memakan makhluk
lainnya. dalam dunia komunisme dan kapitalisme kadang- kadang pandagan yang demikian
“Homo Homini Lupus” masih banyak di praktekkan, meskipun cara dan
sistemnya berbeda dengan zaman dulu , dimana kanibalisme (manusia memakan
sesama manusia) yang identik dengan tingkat kehidupan yang primitif masih
menjadi tradisinya[3].
Itulah
sebabnya, maka pendekatan yang dilakukan oleh para ahli ilmu pengetahuan pada
akhirnya dilaksanakan secara “Inter Disciplinary Approach” (pendekatan antar
ilmu). Dengan demikian manusia dapat dilihat dari segala aspek-aspeknya yang
kemudian dipadukan menjadi suatu ilmu pengetahuan yang disebut psikologi
sedangkan dalam ilmu filsafat disebut dengan ilmu jiwa.[4]
Manusia
adalah tidak lain dari pada makhluk yang berfikir yang dalam proses berfikirnya
itu tidak hanya berupa asosiasi (menghubung-hubungkan) dan reproduksi (memantulkan
kembali), melainkan terdapat di dalam proses tersebut hal-hal yang tidak dapat
dinyatakan (baik dengan kata-kata maupun dengan tingkah laku lahiriyah). Akan tetapi
manusia dalam proses berfikirnya itu mempunyai kecenderungan tertentu
(determined tendency).
Dengan demikian jelaslah bahwa bilamana dalam proses tersebut tidak ada
kecenderungan tertentu, maka hal tersebu bukan proses berfikir, melainkan suatu
proses melamun (fantasi).[5]
Manusia
adalah makhluk tunggal. Ia memiliki talenta dan bakat yang unik diantara
makhluk lain. Ia lahir dengan suatu organisme yang disebut intelgensi yang
bersumber dari otaknya. Struktur otak telah ditentukan secara genetis, namun
berfungsinya otak tersebut menjadi kemampuan umum yang disebut intelgensi,
sangat dipengaruhi oleh interaksi dengan lingkungannya. Cara pengelolaan
intelgensi sangat mempengaruhi kualitas manusia, tetapi sayang caranya
memperlakukan lingkungannya tidak selalu menguntungkan perkembangan
intelgensinya. Hal ini berpengaruh terhadap kepribadian dan kualitas kehidupan
manusia itu sendiri. Dengan kemampuan umum ini maka secara alamiah manusia
adalah penjelajah dunia, pembentuk pemandangan alam.
Berbeda
dengan nasib hewan yang beradaptasi terhadap kondisi alam, manusia tidak terkungkung
oleh alam, imajinasi kemampuan berpikir dan berbuat, menjadikan dia mampu
mengubah kondisi alam. Dari abad ke abad, manusia tidak saja mengalami evolusi
biologis, namun juga evolusi kebudayaan yang eventualnya akan menghantarkan
manusia pada kemajuan ( progres ), dan bukan suatu konstruksi yang sudah
lengkap. Dalam setiap abad ada titik balik, yang merupakan cara pandang dan
pembahasan pikiran terhadap pertalian dunia dalam menelusuri titik balik dari
kontinuitas kebudayaan, maka dipandang perlu mengadakan perjalanan dalam
sejarah intelektual manusia yang disebut monumen intelek yang tidak pernah
menjadi tua ( monuments of unaging intellect ).[6]
Semua
pendapat diatas bilamana kita perhatikan benar- benar maka dapat disimpulkan
bahwa manusia memiliki seluk beluk kehidupan rohaniyah yang sangat pelik yang
meskipun sukar diketahui hakekatnya, tetapi sangat menarik untuk dipelajari.
Barang
siapa dapat memahami seluk beluk hidup. Kejiwaan seseorang, berarti ia dengan
mudah mengetahui hidup kejiwaannya sendiri. Dan dengan mengetahui hidup
kejiwaan orang lain dan diri sendiri itulah maka ia akan dapat mengenal
tuhannya.[7]
Dengan
demikian ia bakan mampu menciptakan kehidupan yang harmonis (berimbang) antara hubungannya
dengan tuhan dsan dengan masyarakatnya yaitu kehidupan vertikal dan horizontal
yang sangat disukai oleh Allah.
Pandangan
islam dalam hal hakekat manusia adalah terletak pada hidup kejiiwaannya
(rohaniyahnya) dengan nafsu serta kecenderungan dan manifestasi emosionilnya.
Akan tetapi hidup jasmaniyahnya bukan dianggap complementer, melainkan sebagai
unsur yang mutlak harus ada yang dengan tanpa jasmaniyah, manusia itu tidak
ada. Keduanya perlu tercipta keseimbangan hidup yang serasi supaya memperoleh
kebahagiaan lahir dan batin. Oleh islam dianggap bahwa usaha manusia untuk
mengetahui hakekat hidup rohaniyah itu suatu hal yang melampaui batas-batas
wewenangnya, maka dari itu tidak mungkin menemukannya, karena masalah jiwa itu
menjadi urusan tuhan sendiri, manusia hanya diberi pengetahuan sedikit saja
tentang hal tersebut (Drs. Hm. Arifin M.Ed,1976: 59).
Dalam
surat Isra’ ayat 85, dinyatakan sebagai berikut :
tRqè=t«ó¡our Ç`tã Çyr9$# ( È@è% ßyr9$# ô`ÏB ÌøBr& În1u !$tBur OçFÏ?ré& z`ÏiB ÉOù=Ïèø9$# wÎ) WxÎ=s% ÇÑÎÈ
Artinya:
Dan mereka bertanya
kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan
tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit[8]".
Jadi jelaslah bahwa kepentingan yang harmonis antara
kedua unsur hidup bagi manusia dalam Islam wajib dipenuhi, sehingga tidak boleh
berat sebelah sebagaimana yang dilaporkan kelompok sahabat yang menghadap
kepada Nabi, karena itu Nabi melarang mereka berbuat demikian.
Manusia yang dibentuk oleh tuhan
yaitu dengan kesempurnaan yang meliputi elemen–elemen rohaniyah dan jasmaniyah.
Kesempurnaan yang dimilikinya dibandingkan dengan makhluk yang lain sehingga
manusia mampu dalam berikhtiar menciptakan keseimbangan hidup rohaniyah dan
jasmaniyah sehingga dapat mengalami hidup yang tegak dalam masyarakat. Manusia
juga mampu berfikir realistis dibandingkan dengan makhluk yang lainnya karena
manusia di anugerahi akal dan pikiran dan mampu merealisasikannya dalam
kehidupan sehari–hari.
Pikiran adalah suatu kekuatan
rohaniyah untuk menetapkan hubungan antara bahan-bahan pengetahuan itu.[9]
James E. Royce dalam Psikologi Dan
Beberapa Aspek Kehidupan Manusia membedakan pengertian antara akal fikiran
(intelek), berfikir dan kecerdasan berfikir (intelgensia) sebagai berikut:
1. Akal fikiran (intelek)
adalah kekuatan atau kemampuan untuk berfikir dan semata-mata menunujukkan bahwa
manusia dapat berbuat untuk itu. Dengan pengertian bahwa manusia dengan
inteleknya dapat mengetahui sesuatu, bukannya inteleknya semata–mata yang
mengetahui.
2.
Berfikir adalah perbuatan dari pada kekuatan intelek
tersebut termasuk ide, penilaian, dan pemberian alasan–alasan. Disini nampak bahwa intelek sebagai kemampuan
pembawaan menjadi dasar perbuatan berfikir itu.
3. Kecerdasan adalah
tingkat kemampuan dimana akal fikiran itu bekerja[10].
Dengan berfikir manusia menemukan
persaman-persamaan, perbedaan-perbedaan antara satu peristiwa dengan peristiwa
yang lain. Dengan berfikir manusia dapat menganalisa sebab dan akibat, atau
menghubung-hubungkannya dsb. Lalu menemukan hukum-hukumnya, menemukan pemecahan
masalah yang sedang dihadapkan kepadanya. Oleh karena itu berfikir adalah
fungsi kejiwaan yang dinamis yang berproses kearah tujuan tertentu, yang
akhirnya menetapkan suatu keputusan.
Berfikir adalah daya yang paling
utama dan merupakan ciri yang khas yang membedakan manusia dari hewan. Manusia
dapat berpikir karena manusia mempunyai bahasa, hewan tidak. “bahasa hewan
bukanlah bahasa seperti yang dimiliki manusia“. bahasa hewan adalah bahasa
instink yang tidak perlu dipelajari dan diajarkan. Bahasa manusia adalah hasil
kebudayaan yang harus dipelajari dan diajarkan.[11]
Berpikir merupakan suatu keaktifan
pribadi manusia yang mengakibatkan penemuan yang terarah kepada suatu tujuan. Manusia
berpikir untuk menemukan pemahaman atau pengertian yang di kehendaki.[12]
Ciri–ciri yang utama dalam berpikir
adalah adanya abstraksi–abstraksi dalam hal ini berarti anggapan lepasnya
kualitas atau relasi dari benda–benda, kejadian–kejadian dan situasi–situasi
yang mula–mula dihadapi sebagai kenyataan sehingga ada beberapa pendapat aliran
psikologi tentang berpikir diantaranya adalah:
a. Psikologi asosiasi
mengemukakan, bahwa berpikir itu tidak lain daripada jalannya tanggapan –
tanggapan yang dikuasai oleh hukum asosiasi. Aliran psikologi asosiasi
berpendapat bahwa dalam alam kejiwaan yang penting ialah terjadinya, tersimpannya
dan bekerjanya tanggapan–tanggapan.
b.
Aliran behaviorisme, berpendapat bahwa berpikir adalah gerakan–gerakan
reaksi yang dilakukan oleh urat syaraf dan otot – otot bicara seperti halnya
bila kita mengucapkan buah pikiran. Jadi menurut aliran ini berpikir tidak lain
adalah berbicara. Dan unsur yang paling sederhana adalah refleks. Refleks
adalah gerakan atau reaksi tak sadar yang disebabkan adanya perangsang dari
luar. Semua keaktifan jiwa yang lebih tinggi seperti perasaan, kemauan, dan
berpikir, dikembalikannya kepada refleks–refleks. Aliran ini hanya ingin tahu
tentang tingkah laku luar (badaniyah) saja.
c.
Psikologi gestalt memandang bahwa berpikir itu
merupakan keaktipan psikis yang abstrak, yang prosesnya tidak dapat kita amati
dengan alat indra kita. Proses berpikir itu dilukiskan sebagai berikut “jika
dalam diri seseorang timbul suatu masalah yang harus dipecahkan, terjadilah
lebih dahulu suatu skema atau bagan yang masih agak kabur – kabur. Bagan itu
dipecahkan dan dibanding–bandingkan dengan seksama.
d.
Sehubungan dengan pendapat para ahli psikologi
gestalt itu, maka ahli – ahli psikologi sekarang sependapat bahwa proses
berpikir pada taraf yang tinggi pada umumnya melalui tahap–tahap sebagai
berikut:
1.
Timbulnya masalah, kesulitan yang harus dipecahkan,
2.
Mencari dan mengumpulkan fakta–fakta yang dianggap
ada sangkut pautnya dengan pemecahan masalah,
3.
Taraf pengolahan atau pencernaan, fakta diolah dan
dicernakan,
4.
Taraf penemuan atau pemahaman; menemukan cara
memecahkan masalah,
Dalam
berpikir orang mengolah, mengorganisasikan bagian – bagian dari pengetahuan,
sehingga pengalaman–pengalaman dan pengetahuan yang tidak teratur menjadi
tersusun merupakan kebulatan–kebulatan yang dapat dikuasai atau dipahami. Dalam
hal ini orang dapat mendekati masalah itu melalui beberapa cara:
a.
Berpikir induktif
Berpikir
induktif adalah suatu proses dalam berpikir yang berlangsung dari khusus menuju
kepada yang umum. Orang mencari ciri – ciri atau sifat – sifat yang tertentu
dari berbagai fenomena, kemudian menarik kesimpulan–kesimpulan bahwa ciri–ciri
atau sifat–sifat itu terdapat pada semua jenis fenomena tadi. Tepat atau
tidaknya kesimpulan (cara berpikir) yang diambil secara induktif ini terutama
bergantung kepada representatif atau tidaknya sampel yang diambil yang mewakili
fenomena keseluruhan. Makin besar jumlah sampel yang diambil berarti makin
besar pula taraf dapat dipercaya dari kesimpulan.
b.
Berpikir deduktif
Sebaliknya
dari berpikir induktif, maka berpikir deduktif prosesnya berlangsung dari yang
umum menuju kepada yang khusus. Dalam cara berpikir ini, orang bertolak dari
suatu teori ataupun prinsip ataupun kesimpulan yang dianggapnya benar dan sudah
bersifat umum. Dari situ ia menerapkannya kepada fenomena – fenomena yang
khusus dan mengambil kesimpulan khusus yang berlaku bagi fenomena tersebut.
c.
Berfikir Analogis
Analogi
berarti persamaan atau perbandingan. Berpikir analogis ialah berpikir dengan
jalan menyamakan atau memperbandingkan fenomena–fenomena yang biasa/pernah
dialami. Di dalam berpikir ini, orang beranggapan bahwa kebenaran dari fenomena–fenomena
yang pernah dialaminya berlaku pula bagi fenomena yang dihadapi sekarang.[14]
Sementara
itu sebagai bentuk refleksi dari pikiran yang secara konstan beraktualisasi
dalam proses berpikir maka secara spontanitas manusia akan mendapatkan
pengetahuan yang berasal dari rasa ingin tahu mengenai sesuatu yang baru
manusia lihat.
Pengetahuan
adalah merupakan hasil proses dari usaha manusia untuk tahu. sementara menurut Sidi
Gazalba mengungkapkan bahwa pengetahuan ialah apa yang diketahui atau hasil
pekerjaan tahu. Pekerjaan tahu tersenut adalah hasil dari : kenal, sadar,
insaf, mengerti, dan pandai. Pengetahuan itu semua milik atau isi pikiran.
Penganut paham pragmatis. Terutama Dewey, tidak membedakam antara
pengetahuan dengan kebenaran (antara knowledge dengan iruth). Jadi pengetahuan
haruslah benar, kalau tidak benar adalah kontradiksi. Sementara menurut Bertrand Russel seorang realist,
mengatakan bahwa bertitik tolak dari pengetahuan adalah kebenaran, dan
kebenaran adalah pengetahuan; maka didalam kehidupannya manusia dapat memiliki
berbagai pengetahuan dan kebenaran.[15]
Dalam
hal ini beberapa pengetahuan manusia yang dapat dirunuskan adalah sebagai
berikut:
1. Pengetahuan biasa atau common sense
2. Pengetahuan ilmu, secara singkat orang menyebutnya
dengan pendek saja yaitu “ilmu” sebagai terjemahan dari “science”
3. Pengetahuan filsafat, atau dengan
singkat saja disebut filsafat.
4. Pengetahuan religi ( pengetahuan agama,-
pengetahuan atau kebenaran yang bersumber dari agama).[16]
Pengetahuan
ialah keadaan tahu; pengetahuan ialah semua yang diketahui. Seperti uraian
sampel berikut ini, seseorang ingin mengetahui jeruk ditanam, apa buahnya. Ia
menanam bibit jeruk. Ia dapat melihat buahnya adalah jeruk. Jadi tahulah dia
bahwa jeruk berbuah jeruk[17].
Pengetahuan
adalah korelasi antara subjek dan objek.adapun pengetahuan menuntut penyadaran
diri akan pengetahuan, dengan demikian menyadari pengetahuan berarti dapat
merumuskan pengetahuan itu dalam bahasa. Makin sanggup orang merumuskannya dalam
bahasa, makin sadar ia akan pengetahuan ; makin tertib pula ia dalam mengetahui
sesuatu maka makin mendalamlah pengetahuannya itu.[18]
Pengetahuan
diperoleh dari pengalaman, ditandai dengan memberi putusan atas objeknya.
Pengalaman adalah persentuhan alam dengan panca indera namun pengetahuan umum
bersifat unik: manusia tidak bersentuhan dengan yang umum, yang bersentuhan
langsung dengan panca indera adalah yang khusus, Namun, pengetahuan itu ada.
Dengan akalnya, melalui logikanya, manusia mengambil kesimpulan dari hal-hal
khusus yang dijumpai. Apabila pengetahuan tidak sesuai dengan objek, disebut
keliru. Sebaliknya jika sesuai dengan objek , pengetahuannya dikatakan benar.
Persesuaian
antara pengetahuan dengan objek dinamai kebenaran. Karena suatu objek memiliki
banyak aspek, sukar mencakup keseluruhannya. Artinya, sulit mencapai seluruh
kebenaran. Yang penting sekurang–kurangnya pengetahuan yang dimiliki sesuai
dengan aspek yang diketahui. Jika seseorang tidak tahu tentang salah satu aspek
dari suatu objek, ia bukan keliru melainkan dikatakan bahwa pengetahuannya
tidak lengkap. Kekeliruan baru terjadi jika manusia mengira tahu tentang satu
aspek, tapi aspek itu tidak ada pada objeknya.
Menurut dani
vardiansyah dalam filsafat ilmu komunikasi 2005 : 5 mengatakan bahwa terdapat
dua cara manusia dalam mendapatka pengetahuan yaitu pengetahuan yang diperoleh
dari pengalaman sendiri dan pengetahuan yang didapat dari pengalaman orang lain
yang diberitahukan kepadanya baik secara langsung maupun melalui medium.[19]
Macam-macam
pengetahuan ditinjau dari segi ilmu filsafat adalah sebagai berikut:
1. Pengetahuan sains ( scientific knowlodge
) ialah pengetahuan yang logis dan didukung oleh bukti empiris ( bukti nyata ).
2. Pengetahuan filsafat ialah pengetahuan
yang kebenarannya hanya dipertanggungjawabkan secara logis, tidak secara
empiris.
3. Pengetahuan mistik ialah pengetahuan
yang tidak dapat dibuktikan secara empiris, tidak juga secara logis.pengetahuan
ini menggunakan paradigma mistis ( mystical paradigm ), metoodenya menggunakan
metode latihan ( riyadlah).[20]
PENUTUP
Dari sini sudah
jelas bahwa dengan pikiran manusia bisa mendapatkan rangkaian pengalaman
dari hasil kemampuan dan usahanya yang kemudian muncullah yang namanya pengetahuan
hal ini terjadi karena setiap kali manusia melakukan penangkapan kesan maka
kesan itu disimpannya dalam memori otak mereka dan pengetahuan manusia dapat
mengangkat martabatnya sebagai pembeda dengan makhluk-makhluk yang lain Dengan
demikian dapat dipahami bahwa manusia, pikiran, pengetahuan, adalah merupakan
integritas yang solididitasnya tidak bisa terpecah – terpecah
Mengingat
manusia juga memiliki keinginan atau nafsu yang merupakan daya – daya dorongan dari dalam untuk
memenuhi semua bentuk kebutuhannya baik kebutuhan fisik maupun kebutuhan rohani
memicu perkembangan dan kesempurnaannya. Sebagai makhluk yang masih kurang
lengkap maka perlu kiranya manusia membekali diri dengan pengetahuan dan
pendidikan sebagai substansi dasar manusia yang memiliki kepribadian yang
kompleks, dengan demikian pengetahuan
merupakan faktor determinan dalam diri manusia bahkan sebagai substansi manusia
itu sendiri yang eventualnya adalah pada sebuah proses filterisasi antara keinginan
( nafsu) dan kebutuhan. Maka pada ranah ini manusia dengan pikiran
dan pengetahuannya mampu menghantarkan substansi kemanusiaannya pada tatanan
perkembangan dan kesempurnaan, dimana manusia sudah mampu menjadi tuan
dari dirinya sendiri bukan malah menjadi budak atas dirinya sendiri. Jadi
sudah jelas bahwa manusia dengan pikiran, dan pengetahuannya yang kompleks akan
membentuk integritas pribadi yang solid.
[2] Drs. H. M.
Arifin, M.Ed, Psikologi dan beberapa aspek kehidupan rohaniyah manusia,
(Jakarta: Bulan Bintang, 1976), hlm. 54
[6] Cony R
Semiawan, dkk, Spirit Inovasi Dalam Filsafat Ilmu, (Jakarta: PT. Indeks,
2011), hlm. 4-5
[15] Drs.
Burhanuddin Salam, Logika Materiil, (Bandung : Rineka Cipta, 1997), hlm.
28
[16] Ibid, hlm.
28-29
[17] Prof. Dr.
Ahmad Tafsir, Filsafat Umum Akal Dan Hati Sejak Thales sampai Capra, (Bandung : Remaja Rosda Karya, 2004), hlm. 16
[18] Prof. Dr.
Sutarjo A. Wiramihardja, P. Si, Pengantar filsafat Sistematika dan Sejarah
Logika dan Filsafat (Epistimologi) Metafisika dan Filsafat Manusia Aksiologi,
(Bandung: Refika Aditama, 2009), hlm. 113
[19] Dani
Vardiansyah, Filsafat Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, (Depok : Indeks,
2008), hlm. 5
[20] Prof. Dr.
Ahmad Tafsir, Filsafat Umum Akal Dan Hati Sejak Thales sampai Capra, Ibid, hlm. 16-17