Selasa, 13 Oktober 2015



PENDAHULUAN
Bismillahirrahmanirrahim syukur al-hamdulillah penulis panjatkan semoga penulis dan pembaca senantiasa dalam maghfirah, lindungan, serta hidayah-Nya, Amin.selanjutnya pada pembahasan ini penulis ingin melakukan penggagasan terhadap satu komposisi redaksi yang berbunyi “ Manusia, Pikiran, pengetahuan.” Dengan dimulai dari pendahuluan yang akan sendikit menyinggung maksud judul, kemudiuan dilanjutkan dengan pembahasan mengenai manusia, pikiran, dan pengetahuan, yang terakhir adalah penutup.
Terkait dengan hal itu diantara point paling krusial dalam pembahasan ini adalah adalah mengenai pengertian manusia,pengertian pikiran, pengertian pengetahuan dalam konteks verbal maupun istilah sekaligus proses-proses berpikir yang dilakukan oleh manusia dalam rangka mendapatkan pengetahuan –pengetahuan baru dalam interaksinya sebagai makhluk sosial dengan lingkungan sosial maupun lingkungan fisik.
Mengapa manusia dikaitkan dengan pikiran dan pengetahuan karena memang tiga kata itu tidak terpisahkan satu sama lain terlepas dari kondisi manusia itu kurang waras, tidak waras ( gila ), karena secara umum manusia dianugerahi oleh Allah Swt, akal pikir dan akal budi sebagai diferensiasi diantara  makhluk lain yang diciptakan  oleh Allah Swt, seperti hewan  dan tumbuhan. Dengan anugerah yang begitu sempurna itu maka manusia dapat memamfaatkan akal pikir dan akal budi itu untuk melangsungkan kehidupan di bumi serta dalam proses aktualisasi dirinya sebagai makhluk yang beradap dalam interaksinya dengan masyarakat.
Dengan pikirannya manusia bisa melakukan eksplorasi berfikir yang bijak karena dalam konteks berinteraksi dengan masyarakat mekanisme “berfilkir” inilah yang menjadi barometer manusia dalam kualitas dan kuantitas dirinya di mata masyarakat dan manusia yang lain.hal itu terjadi karena refleksi berfikir ini yang kemudian diaktualisasikan dalam bentuk kecakapan kognitif, psikomotorik dan afektif.
Kualitas dan kuantitas manusia sebagai makhluk elit hanya bisa didapatkan dengan selalu interospeksi diri dan membuka diri dengan segala bentuk koreksi yang inklusif sebagai wahana pengembangan kepribadian dan wahana pengembangan pengetahuan, seperti yang dijelaskan di pembahasan sebelumnya bahwa manusia, pikiran, pengetahuan, adalah tiga hal yang tidak bisa terpisahkan satu sama lain. Manusia dengan pikirannya mampu mendapatkan pengetahuan-pengetahuan baru yang didapat dari hasil pengalamannya dengan lingkungan sosial dan lingkungan fisiknya.
Selain mekanisme “berfikir” maka pengetahuan juga menjadi faktor determinan dalam menentukan kulitas dan kuantitas manusia yang akan menghantarkan manusia pada paradigma kebudayaan,dan pemikiran yang beradap sebagai verifikasi bahwa manusia adalah makhluk yang elit dengan segala keunikan dan ke khassannya.        


PEMBAHASAN
Manusia sebagai individu hidup dalam suatu habitat dan kungkungan interaksi sosialnya, diakui atau tidak interaksi ini pasti terjadi dan mutlak diperlukan untuk hidupnya. tanpa dunia luar itu ia pasti mati. untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, melangsungkan dan mengembangkannya, manusia membutuhkan makanan, udara, juga memerlukan persahabatan, ilmu pengetahuan, persekutuan dan kesusilaan. daya-daya yang mendorong manusia dari  dalam untuk melakukan perbuatan itu disebut dorongan nafsu ( driften ). Yang dimaksud dengan dorongan nafsu adalah kekuatan pendorong maju yang memaksa dan mengejar kepuasan dengan jalan mencari, mencapai sesuatu yang berupa benda- benda ataupun nilai-nilai tertentu.
Manusia adalah makhluk yang belum selesai, belum lengkap dan yang membutuhkan dunia luar untuk berkembang mencapai kesempurnaannya, baik jasmani maupun rohani. dorongan nafsu itulah yang merupakan kekuatan di dalam diri manusia, yang mendorong kita maju untuk memiliki benda-benda dan nilai-nilai itu, dorongan nafsu adalah bentuk penjelmaan hidup yang tertentu.
Manusia sebagai makhluk yang “sadar” akan diri sendiri, akan dapat menyadari bahwa ia “didorong” ia merasa bahwa ada sesuatu di dalam dirinya yang mendorongnya berbuat dan bertindak.[1]
Bilamana manusia ditinjau dari sudut aesthetika, ( ilmu tentang keindahan) maka manusia disrebut dengan” homo aestheticus” yaitu makhluk yang memiliki bakat dan selera yang suka kepada seni dan keindahan. Kadang–kadang juga “disebut homo sosius” yaitu makhluk yang berbakat kepada hidup saling tolong menolong, hal ini bila manusia dilihat dari segi sosiologi atau psikologi sosial oleh karena manusia adalah berbeda dengan binatang dalam hal khas pada kemampuan berfikir yang dimilikinya, maka ia disebut dengan “homo sapiens” (makhluk yang berkemampuan untuk berfikir).[2] Memang kriterium pokok yang membedakan antara manusia dengan binatang adalah terletak pada akal berfikirnya.
            Akan tetapi kalau kita pandang dari sudut Anthropo Biologi Darwinisme, maka dalam proses perkembangan evolusioner-nya, manusia pada suatu stadium tertentu disebut juga “homo homini lupus” yaitu makhluk yang suka memakan makhluk lainnya. dalam dunia komunisme dan kapitalisme kadang- kadang pandagan yang demikian “Homo Homini Lupus” masih banyak di praktekkan, meskipun cara dan sistemnya berbeda dengan zaman dulu , dimana kanibalisme (manusia memakan sesama manusia) yang identik dengan tingkat kehidupan yang primitif masih menjadi tradisinya[3].
            Itulah sebabnya, maka pendekatan yang dilakukan oleh para ahli ilmu pengetahuan pada akhirnya dilaksanakan secara “Inter Disciplinary Approach” (pendekatan antar ilmu). Dengan demikian manusia dapat dilihat dari segala aspek-aspeknya yang kemudian dipadukan menjadi suatu ilmu pengetahuan yang disebut psikologi sedangkan dalam ilmu filsafat disebut dengan ilmu jiwa.[4]
            Manusia adalah tidak lain dari pada makhluk yang berfikir yang dalam proses berfikirnya itu tidak hanya berupa asosiasi (menghubung-hubungkan) dan reproduksi (memantulkan kembali), melainkan terdapat di dalam proses tersebut hal-hal yang tidak dapat dinyatakan (baik dengan kata-kata maupun dengan tingkah laku lahiriyah). Akan tetapi manusia dalam proses berfikirnya itu mempunyai kecenderungan tertentu (determined tendency). Dengan demikian jelaslah bahwa bilamana dalam proses tersebut tidak ada kecenderungan tertentu, maka hal tersebu bukan proses berfikir, melainkan suatu proses melamun (fantasi).[5]
            Manusia adalah makhluk tunggal. Ia memiliki talenta dan bakat yang unik diantara makhluk lain. Ia lahir dengan suatu organisme yang disebut intelgensi yang bersumber dari otaknya. Struktur otak telah ditentukan secara genetis, namun berfungsinya otak tersebut menjadi kemampuan umum yang disebut intelgensi, sangat dipengaruhi oleh interaksi dengan lingkungannya. Cara pengelolaan intelgensi sangat mempengaruhi kualitas manusia, tetapi sayang caranya memperlakukan lingkungannya tidak selalu menguntungkan perkembangan intelgensinya. Hal ini berpengaruh terhadap kepribadian dan kualitas kehidupan manusia itu sendiri. Dengan kemampuan umum ini maka secara alamiah manusia adalah penjelajah dunia, pembentuk pemandangan alam.
            Berbeda dengan nasib hewan yang beradaptasi terhadap kondisi alam, manusia tidak terkungkung oleh alam, imajinasi kemampuan berpikir dan berbuat, menjadikan dia mampu mengubah kondisi alam. Dari abad ke abad, manusia tidak saja mengalami evolusi biologis, namun juga evolusi kebudayaan yang eventualnya akan menghantarkan manusia pada kemajuan ( progres ), dan bukan suatu konstruksi yang sudah lengkap. Dalam setiap abad ada titik balik, yang merupakan cara pandang dan pembahasan pikiran terhadap pertalian dunia dalam menelusuri titik balik dari kontinuitas kebudayaan, maka dipandang perlu mengadakan perjalanan dalam sejarah intelektual manusia yang disebut monumen intelek yang tidak pernah menjadi tua ( monuments of unaging intellect ).[6]  
            Semua pendapat diatas bilamana kita perhatikan benar- benar maka dapat disimpulkan bahwa manusia memiliki seluk beluk kehidupan rohaniyah yang sangat pelik yang meskipun sukar diketahui hakekatnya, tetapi sangat menarik untuk dipelajari.
            Barang siapa dapat memahami seluk beluk hidup. Kejiwaan seseorang, berarti ia dengan mudah mengetahui hidup kejiwaannya sendiri. Dan dengan mengetahui hidup kejiwaan orang lain dan diri sendiri itulah maka ia akan dapat mengenal tuhannya.[7]
            Dengan demikian ia bakan mampu menciptakan kehidupan yang harmonis (berimbang) antara hubungannya dengan tuhan dsan dengan masyarakatnya yaitu kehidupan vertikal dan horizontal yang sangat disukai oleh Allah.
            Pandangan islam dalam hal hakekat manusia adalah terletak pada hidup kejiiwaannya (rohaniyahnya) dengan nafsu serta kecenderungan dan manifestasi emosionilnya. Akan tetapi hidup jasmaniyahnya bukan dianggap complementer, melainkan sebagai unsur yang mutlak harus ada yang dengan tanpa jasmaniyah, manusia itu tidak ada. Keduanya perlu tercipta keseimbangan hidup yang serasi supaya memperoleh kebahagiaan lahir dan batin. Oleh islam dianggap bahwa usaha manusia untuk mengetahui hakekat hidup rohaniyah itu suatu hal yang melampaui batas-batas wewenangnya, maka dari itu tidak mungkin menemukannya, karena masalah jiwa itu menjadi urusan tuhan sendiri, manusia hanya diberi pengetahuan sedikit saja tentang hal tersebut (Drs. Hm. Arifin M.Ed,1976: 59).
            Dalam surat Isra’ ayat 85, dinyatakan sebagai berikut :
štRqè=t«ó¡our Ç`tã Çyr9$# ( È@è% ßyr9$# ô`ÏB ̍øBr& În1u !$tBur OçFÏ?ré& z`ÏiB ÉOù=Ïèø9$# žwÎ) WxŠÎ=s% ÇÑÎÈ
Artinya: Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit[8]".
                Jadi jelaslah bahwa kepentingan yang harmonis antara kedua unsur hidup bagi manusia dalam Islam wajib dipenuhi, sehingga tidak boleh berat sebelah sebagaimana yang dilaporkan kelompok sahabat yang menghadap kepada Nabi, karena itu Nabi melarang mereka berbuat demikian.
            Manusia yang dibentuk oleh tuhan yaitu dengan kesempurnaan yang meliputi elemen–elemen rohaniyah dan jasmaniyah. Kesempurnaan yang dimilikinya dibandingkan dengan makhluk yang lain sehingga manusia mampu dalam berikhtiar menciptakan keseimbangan hidup rohaniyah dan jasmaniyah sehingga dapat mengalami hidup yang tegak dalam masyarakat. Manusia juga mampu berfikir realistis dibandingkan dengan makhluk yang lainnya karena manusia di anugerahi akal dan pikiran dan mampu merealisasikannya dalam kehidupan sehari–hari.
            Pikiran adalah suatu kekuatan rohaniyah untuk menetapkan hubungan antara bahan-bahan pengetahuan itu.[9]
            James E. Royce dalam Psikologi Dan Beberapa Aspek Kehidupan Manusia membedakan pengertian antara akal fikiran (intelek), berfikir dan kecerdasan berfikir (intelgensia) sebagai berikut:
1.      Akal fikiran (intelek) adalah kekuatan atau kemampuan untuk berfikir dan semata-mata menunujukkan bahwa manusia dapat berbuat untuk itu. Dengan pengertian bahwa manusia dengan inteleknya dapat mengetahui sesuatu, bukannya inteleknya semata–mata yang mengetahui.
2.      Berfikir adalah perbuatan dari pada kekuatan intelek tersebut termasuk ide, penilaian, dan pemberian alasan–alasan. Disini nampak bahwa intelek sebagai kemampuan pembawaan menjadi dasar perbuatan berfikir itu.
3.      Kecerdasan adalah tingkat kemampuan dimana akal fikiran itu bekerja[10].
            Dengan berfikir manusia menemukan persaman-persamaan, perbedaan-perbedaan antara satu peristiwa dengan peristiwa yang lain. Dengan berfikir manusia dapat menganalisa sebab dan akibat, atau menghubung-hubungkannya dsb. Lalu menemukan hukum-hukumnya, menemukan pemecahan masalah yang sedang dihadapkan kepadanya. Oleh karena itu berfikir adalah fungsi kejiwaan yang dinamis yang berproses kearah tujuan tertentu, yang akhirnya menetapkan suatu keputusan.    
            Berfikir adalah daya yang paling utama dan merupakan ciri yang khas yang membedakan manusia dari hewan. Manusia dapat berpikir karena manusia mempunyai bahasa, hewan tidak. “bahasa hewan bukanlah bahasa seperti yang dimiliki manusia“. bahasa hewan adalah bahasa instink yang tidak perlu dipelajari dan diajarkan. Bahasa manusia adalah hasil kebudayaan yang harus dipelajari dan diajarkan.[11]
            Berpikir merupakan suatu keaktifan pribadi manusia yang mengakibatkan penemuan yang terarah kepada suatu tujuan. Manusia berpikir untuk menemukan pemahaman atau pengertian yang di kehendaki.[12]
            Ciri–ciri yang utama dalam berpikir adalah adanya abstraksi–abstraksi dalam hal ini berarti anggapan lepasnya kualitas atau relasi dari benda–benda, kejadian–kejadian dan situasi–situasi yang mula–mula dihadapi sebagai kenyataan sehingga ada beberapa pendapat aliran psikologi tentang berpikir diantaranya adalah:
a.       Psikologi asosiasi mengemukakan, bahwa berpikir itu tidak lain daripada jalannya tanggapan – tanggapan yang dikuasai oleh hukum asosiasi. Aliran psikologi asosiasi berpendapat bahwa dalam alam kejiwaan yang penting ialah terjadinya, tersimpannya dan bekerjanya tanggapan–tanggapan.
b.      Aliran behaviorisme, berpendapat bahwa berpikir adalah gerakan–gerakan reaksi yang dilakukan oleh urat syaraf dan otot – otot bicara seperti halnya bila kita mengucapkan buah pikiran. Jadi menurut aliran ini berpikir tidak lain adalah berbicara. Dan unsur yang paling sederhana adalah refleks. Refleks adalah gerakan atau reaksi tak sadar yang disebabkan adanya perangsang dari luar. Semua keaktifan jiwa yang lebih tinggi seperti perasaan, kemauan, dan berpikir, dikembalikannya kepada refleks–refleks. Aliran ini hanya ingin tahu tentang tingkah laku luar (badaniyah) saja.
c.       Psikologi gestalt memandang bahwa berpikir itu merupakan keaktipan psikis yang abstrak, yang prosesnya tidak dapat kita amati dengan alat indra kita. Proses berpikir itu dilukiskan sebagai berikut “jika dalam diri seseorang timbul suatu masalah yang harus dipecahkan, terjadilah lebih dahulu suatu skema atau bagan yang masih agak kabur – kabur. Bagan itu dipecahkan dan dibanding–bandingkan dengan seksama.
d.      Sehubungan dengan pendapat para ahli psikologi gestalt itu, maka ahli – ahli psikologi sekarang sependapat bahwa proses berpikir pada taraf yang tinggi pada umumnya melalui tahap–tahap sebagai berikut: 
1.      Timbulnya masalah, kesulitan  yang harus dipecahkan,
2.      Mencari dan mengumpulkan fakta–fakta yang dianggap ada sangkut pautnya dengan pemecahan masalah,
3.      Taraf pengolahan atau pencernaan, fakta diolah dan dicernakan,
4.      Taraf penemuan atau pemahaman; menemukan cara memecahkan masalah,
5.      Menilai, menyempurnakan dan mencocokkan hasil pemecahan.[13]
Dalam berpikir orang mengolah, mengorganisasikan bagian – bagian dari pengetahuan, sehingga pengalaman–pengalaman dan pengetahuan yang tidak teratur menjadi tersusun merupakan kebulatan–kebulatan yang dapat dikuasai atau dipahami. Dalam hal ini orang dapat mendekati masalah itu melalui beberapa cara:
a.       Berpikir induktif
Berpikir induktif adalah suatu proses dalam berpikir yang berlangsung dari khusus menuju kepada yang umum. Orang mencari ciri – ciri atau sifat – sifat yang tertentu dari berbagai fenomena, kemudian menarik kesimpulan–kesimpulan bahwa ciri–ciri atau sifat–sifat itu terdapat pada semua jenis fenomena tadi. Tepat atau tidaknya kesimpulan (cara berpikir) yang diambil secara induktif ini terutama bergantung kepada representatif atau tidaknya sampel yang diambil yang mewakili fenomena keseluruhan. Makin besar jumlah sampel yang diambil berarti makin besar pula taraf dapat dipercaya dari kesimpulan.
b.      Berpikir deduktif
Sebaliknya dari berpikir induktif, maka berpikir deduktif prosesnya berlangsung dari yang umum menuju kepada yang khusus. Dalam cara berpikir ini, orang bertolak dari suatu teori ataupun prinsip ataupun kesimpulan yang dianggapnya benar dan sudah bersifat umum. Dari situ ia menerapkannya kepada fenomena – fenomena yang khusus dan mengambil kesimpulan khusus yang berlaku bagi fenomena tersebut.
c.       Berfikir Analogis
Analogi berarti persamaan atau perbandingan. Berpikir analogis ialah berpikir dengan jalan menyamakan atau memperbandingkan fenomena–fenomena yang biasa/pernah dialami. Di dalam berpikir ini, orang beranggapan bahwa kebenaran dari fenomena–fenomena yang pernah dialaminya berlaku pula bagi fenomena yang dihadapi sekarang.[14]     
Sementara itu sebagai bentuk refleksi dari pikiran yang secara konstan beraktualisasi dalam proses berpikir maka secara spontanitas manusia akan mendapatkan pengetahuan yang berasal dari rasa ingin tahu mengenai sesuatu yang baru manusia lihat.
Pengetahuan adalah merupakan hasil proses dari usaha manusia untuk tahu. sementara menurut Sidi Gazalba mengungkapkan bahwa pengetahuan ialah apa yang diketahui atau hasil pekerjaan tahu. Pekerjaan tahu tersenut adalah hasil dari : kenal, sadar, insaf, mengerti, dan pandai. Pengetahuan itu semua milik atau isi pikiran. Penganut paham pragmatis. Terutama Dewey, tidak membedakam antara pengetahuan dengan kebenaran (antara knowledge dengan iruth). Jadi pengetahuan haruslah benar, kalau tidak benar adalah kontradiksi. Sementara menurut  Bertrand Russel seorang realist, mengatakan bahwa bertitik tolak dari pengetahuan adalah kebenaran, dan kebenaran adalah pengetahuan; maka didalam kehidupannya manusia dapat memiliki berbagai pengetahuan dan kebenaran.[15]
            Dalam hal ini beberapa pengetahuan manusia yang dapat dirunuskan adalah sebagai berikut:
1.      Pengetahuan biasa atau common sense
2.      Pengetahuan ilmu, secara singkat orang menyebutnya dengan pendek saja yaitu “ilmu” sebagai terjemahan dari “science”
3.      Pengetahuan filsafat, atau dengan singkat saja disebut filsafat.
4.      Pengetahuan religi ( pengetahuan agama,- pengetahuan atau kebenaran yang bersumber dari agama).[16]
            Pengetahuan ialah keadaan tahu; pengetahuan ialah semua yang diketahui. Seperti uraian sampel berikut ini, seseorang ingin mengetahui jeruk ditanam, apa buahnya. Ia menanam bibit jeruk. Ia dapat melihat buahnya adalah jeruk. Jadi tahulah dia bahwa jeruk berbuah jeruk[17].
            Pengetahuan adalah korelasi antara subjek dan objek.adapun pengetahuan menuntut penyadaran diri akan pengetahuan, dengan demikian menyadari pengetahuan berarti dapat merumuskan pengetahuan itu dalam bahasa. Makin sanggup orang merumuskannya dalam bahasa, makin sadar ia akan pengetahuan ; makin tertib pula ia dalam mengetahui sesuatu maka makin mendalamlah pengetahuannya itu.[18]
Pengetahuan diperoleh dari pengalaman, ditandai dengan memberi putusan atas objeknya. Pengalaman adalah persentuhan alam dengan panca indera namun pengetahuan umum bersifat unik: manusia tidak bersentuhan dengan yang umum, yang bersentuhan langsung dengan panca indera adalah yang khusus, Namun, pengetahuan itu ada. Dengan akalnya, melalui  logikanya,  manusia mengambil kesimpulan dari hal-hal khusus yang dijumpai. Apabila pengetahuan tidak sesuai dengan objek, disebut keliru. Sebaliknya jika sesuai dengan objek , pengetahuannya dikatakan benar.
Persesuaian antara pengetahuan dengan objek dinamai kebenaran. Karena suatu objek memiliki banyak aspek, sukar mencakup keseluruhannya. Artinya, sulit mencapai seluruh kebenaran. Yang penting sekurang–kurangnya pengetahuan yang dimiliki sesuai dengan aspek yang diketahui. Jika seseorang tidak tahu tentang salah satu aspek dari suatu objek, ia bukan keliru melainkan dikatakan bahwa pengetahuannya tidak lengkap. Kekeliruan baru terjadi jika manusia mengira tahu tentang satu aspek, tapi aspek itu tidak ada pada objeknya.
Menurut dani vardiansyah dalam filsafat ilmu komunikasi 2005 : 5 mengatakan bahwa terdapat dua cara manusia dalam mendapatka pengetahuan yaitu pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman sendiri dan pengetahuan yang didapat dari pengalaman orang lain yang diberitahukan kepadanya baik secara langsung maupun melalui medium.[19]
Macam-macam pengetahuan ditinjau dari segi ilmu filsafat adalah sebagai berikut:
1.      Pengetahuan sains ( scientific knowlodge ) ialah pengetahuan yang logis dan didukung oleh bukti empiris ( bukti nyata ).
2.      Pengetahuan filsafat ialah pengetahuan yang kebenarannya hanya dipertanggungjawabkan secara logis, tidak secara empiris.
3.      Pengetahuan mistik ialah pengetahuan yang tidak dapat dibuktikan secara empiris, tidak juga secara logis.pengetahuan ini menggunakan paradigma mistis ( mystical paradigm ), metoodenya menggunakan metode latihan ( riyadlah).[20] 




PENUTUP
Dari sini sudah jelas bahwa dengan pikiran manusia bisa mendapatkan rangkaian pengalaman dari hasil kemampuan dan usahanya yang kemudian muncullah yang namanya pengetahuan hal ini terjadi karena setiap kali manusia melakukan penangkapan kesan maka kesan itu disimpannya dalam memori otak mereka dan pengetahuan manusia dapat mengangkat martabatnya sebagai pembeda dengan makhluk-makhluk yang lain Dengan demikian dapat dipahami bahwa manusia, pikiran, pengetahuan, adalah merupakan integritas yang solididitasnya tidak bisa terpecah – terpecah   
Mengingat manusia juga memiliki keinginan atau nafsu yang merupakan  daya – daya dorongan dari dalam untuk memenuhi semua bentuk kebutuhannya baik kebutuhan fisik maupun kebutuhan rohani memicu perkembangan dan kesempurnaannya. Sebagai makhluk yang masih kurang lengkap maka perlu kiranya manusia membekali diri dengan pengetahuan dan pendidikan sebagai substansi dasar manusia yang memiliki kepribadian yang kompleks, dengan demikian  pengetahuan merupakan faktor determinan dalam diri manusia bahkan sebagai substansi manusia itu sendiri yang eventualnya adalah pada sebuah proses filterisasi antara keinginan ( nafsu) dan kebutuhan. Maka pada ranah ini manusia dengan pikiran dan pengetahuannya mampu menghantarkan substansi kemanusiaannya pada tatanan perkembangan dan kesempurnaan, dimana manusia sudah mampu menjadi tuan dari dirinya sendiri bukan malah menjadi budak atas dirinya sendiri. Jadi sudah jelas bahwa manusia dengan pikiran, dan pengetahuannya yang kompleks akan membentuk integritas pribadi yang solid.


[1] Drs. M. Ngalim Purwanto, MP, Psikologi Pendidikan, (Bandung: Rosda karya, 2004),  hlm.32
[2] Drs. H. M. Arifin, M.Ed, Psikologi dan beberapa aspek kehidupan rohaniyah manusia, (Jakarta: Bulan Bintang, 1976), hlm. 54
[3] Ibid,  hlm. 54
[4] Ibid, hlm. 53
[5] Ibid, hlm. 58
[6] Cony R Semiawan, dkk, Spirit Inovasi Dalam Filsafat Ilmu, (Jakarta: PT. Indeks, 2011), hlm. 4-5
[7] Ibid, Psikologi Dan Beberapa Aspek Kehidupan Rohaniyah Manusia………hlm. 59
[8] Ibid, hlm. 59-60
[9] Ibid, hlm. 180
[10] Ibid, hlm. 180
[11] Drs.M.Ngalim Purwanto, MP, Psikologi Pendidikan………….Ibid, hlm. 43
[12] Ibid, hlm. 43
[13] Ibid, hlm. 44-46
[14] Ibid, hlm. 47-48
[15] Drs. Burhanuddin Salam, Logika Materiil, (Bandung : Rineka Cipta, 1997), hlm. 28
[16] Ibid, hlm. 28-29
[17] Prof. Dr. Ahmad Tafsir, Filsafat Umum Akal Dan Hati Sejak Thales sampai Capra, (Bandung : Remaja Rosda Karya, 2004), hlm. 16
[18] Prof. Dr. Sutarjo A. Wiramihardja, P. Si, Pengantar filsafat Sistematika dan Sejarah Logika dan Filsafat (Epistimologi) Metafisika dan Filsafat Manusia Aksiologi, (Bandung: Refika Aditama, 2009), hlm. 113
[19] Dani Vardiansyah, Filsafat Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, (Depok : Indeks, 2008), hlm. 5
[20] Prof. Dr. Ahmad Tafsir, Filsafat Umum Akal Dan Hati Sejak Thales sampai Capra, Ibid, hlm. 16-17